Perang Kutai vs Belanda 1843–1844 merupakan salah satu konflik kolonial di Kalimantan Timur yang jarang dibahas secara mendalam, meski menjadi titik balik penting bagi Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martapura. Kerajaan ini dikenal kaya raya berkat perdagangan hasil hutan, emas, intan, dan posisinya yang strategis di Sungai Mahakam.

Latar Belakang

Pada awal abad ke-19, Kutai sudah menjadi incaran kekuatan Eropa. Belanda mengklaim wilayah itu sebagai bagian Hindia Belanda, tapi pengaruhnya masih lemah. Sultan Aji Muhammad Salehuddin I berusaha menjaga kedaulatan dengan hati-hati terhadap pedagang asing.

Pada 1844 (ada yang menyebut insiden awal 1843), datang dua kapal dagang Inggris di bawah pimpinan James Erskine Murray. Mereka ingin berdagang, mendirikan pos dagang di Tenggarong, dan mendapat hak eksklusif kapal uap di Sungai Mahakam. Sultan hanya mengizinkan perdagangan terbatas di Samarinda. Murray tidak puas, lalu menembakkan meriam ke arah istana.

Pertempuran Tenggarong melawan Inggris

Pasukan Kutai di bawah Panglima Awang Long (Ario Senopati) membalas serangan. Pertempuran berlangsung sekitar 36 jam. Inggris kalah telak: Murray tewas, 3 orang tewas dan 5 luka-luka. Kapal Inggris mundur.

Kemenangan ini membuat Kutai bangga, tapi juga memicu reaksi Belanda.

Intervensi Belanda

Belanda menggunakan insiden ini sebagai pretext (alasan) untuk menegaskan kekuasaan. Mereka mengklaim Kutai adalah wilayah mereka dan Inggris tidak boleh ikut campur. Belanda mengirim armada di bawah Kapten t’Hooft dengan persenjataan lengkap.

Pasukan Belanda menyerang Tenggarong. Kota dibakar, lebih dari 500 rumah hangus. Sultan diungsikan ke Kota Bangun. Panglima Awang Long gugur dalam pertempuran (menurut hikayat, tewas tertimpa reruntuhan benteng yang kena meriam). Kesultanan akhirnya kalah.

Akibat Perang

Pada 11 Oktober 1844, Sultan Aji Muhammad Salehuddin I terpaksa menandatangani perjanjian yang mengakui kedaulatan Belanda. Kutai menjadi vassal (negara bawahan) Hindia Belanda, dengan Residen di Banjarmasin sebagai pengawas.

Kerajaan yang kaya itu “hampir musnah” sebagai kekuatan independen. Belanda kemudian semakin mendalami kontrol, terutama setelah penemuan minyak di wilayah Kutai pada akhir abad ke-19.

Signifikansi

Perang ini menunjukkan bagaimana kekuatan Eropa saling berebut (Inggris vs Belanda) dan memanfaatkan insiden kecil untuk menguasai wilayah strategis. Bagi masyarakat Kutai, Awang Long menjadi simbol perlawanan heroik meski akhirnya kalah melawan senjata modern Belanda.

Konflik ini menjadi awal penjajahan langsung Belanda di Kalimantan Timur yang berlangsung hingga abad ke-20. Sejarah ini masih hidup dalam cerita lisan dan kebanggaan lokal di Tenggarong dan sekitarnya.