Tan Malaka: Bapak Republik yang “Hilang” dari Sejarah Orde Baru
Tan Malaka, atau dengan nama lengkap Ibrahim Datuk Sutan Malaka, lahir pada 2 Juni 1897 di Pandam Gadang, Suliki, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Ia merupakan salah satu tokoh paling brilian sekaligus tragis dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia — filsuf, guru, revolusioner, dan pemikir radikal yang dijuluki “Bapak Republik Indonesia” oleh Muhammad Yamin.
Awal Kehidupan dan Pendidikan
Tan Malaka berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya seorang buruh tani, sementara ibunya berasal dari keluarga terpandang di Minangkabau. Ia menempuh pendidikan di Sekolah Guru (Kweekschool) di Bukittinggi, lalu melanjutkan studi ke Belanda. Di sana ia terpapar pemikiran Marxisme dan ide-ide revolusioner.
Pulang ke Tanah Air, ia bekerja sebagai guru di perkebunan teh Deli, Sumatera Utara. Pengalaman melihat penderitaan buruh perkebunan membuatnya semakin radikal. Ia aktif di Sarekat Islam dan kemudian bergabung dengan PKI (Partai Komunis Indonesia). Aktivitasnya yang membahayakan membuat Belanda mengasingkannya pada 1922.
Perjuangan Internasional dan Pemikiran Radikal
Selama pengasingan, Tan Malaka menjadi petualang politik kelas dunia. Ia berkeliling Asia dan Eropa, menggunakan berbagai alias, mendirikan gerakan bawah tanah, dan mendirikan Partai Republik Indonesia (PARI) di pengasingan. Ia menolak kompromi setengah hati dengan penjajah.
Karya paling ikoniknya adalah Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika), yang ditulis pada masa pendudukan Jepang. Buku ini menjadi senjata intelektual untuk membangkitkan cara berpikir ilmiah, rasional, dan revolusioner di kalangan rakyat Indonesia — menggabungkan Marxisme dengan konteks lokal Indonesia. Pemikirannya sangat radikal: ia menekankan revolusi sosial-ekonomi yang menyeluruh, anti-imperialisme tanpa kompromi, dan persatuan kekuatan revolusioner (termasuk Islam dan nasionalisme).
Pada 1920-an, ia sudah menulis Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia), salah satu rumusan paling awal tentang bentuk negara republik bagi Indonesia.
Peran di Masa Revolusi Kemerdekaan
Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, Tan Malaka kembali ke panggung. Ia menggerakkan rapat raksasa di Lapangan Ikada (sekarang Monas) pada September 1945 untuk membangun dukungan massa terhadap kemerdekaan. Ia mendirikan Persatuan Perjuangan (1946), koalisi luas yang menolak perundingan dengan Belanda dan menuntut perjuangan total. Ia juga mendirikan Partai Murba.
Tan Malaka kritis terhadap diplomasi Soekarno-Hatta yang dianggapnya terlalu lunak terhadap Belanda. Perbedaannya dengan pemimpin utama menyebabkan ia dipenjarakan beberapa kali.
Akhir Tragis dan “Penghilangan” di Orde Baru
Pada 21 Februari 1949, di tengah Agresi Militer Belanda II, Tan Malaka ditangkap di wilayah Kediri, Jawa Timur. Ia dieksekusi mati tanpa pengadilan oleh pasukan TNI (Divisi Brawijaya, Batalyon Sikatan) di Selopanggung, kaki Gunung Wilis. Lokasi makamnya sempat menjadi misteri selama puluhan tahun.
Ironisnya, bukan Belanda yang membunuhnya, melainkan anak bangsa sendiri di tengah kekacauan revolusi.
Pada masa Orde Baru, nama Tan Malaka hampir dihapus dari buku-buku sejarah resmi. Pemikirannya yang kiri dan radikal dianggap berbahaya di era anti-komunis. Baru setelah Reformasi, perannya mulai diangkat kembali. Ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Soekarno pada 1963.
Warisan
Tan Malaka adalah contoh intelektual organik yang tidak hanya berpikir, tapi juga bertindak. Ia mengajarkan pentingnya berpikir kritis (Madilog) untuk membebaskan bangsa dari penjajahan, feodalisme, dan dogma. Meski sering disebut “terlupakan”, semangat revolusionernya tetap relevan: kemerdekaan sejati harus diiringi keadilan sosial dan kedaulatan rakyat.
Seperti kata Tempo: Ia adalah Bapak Republik yang pemikirannya terlalu berani untuk zamannya.
Referensi utama: Wikipedia, karya Harry A. Poeze, dan berbagai biografi sejarah Indonesia.
Leave a Reply